Acheng Style Acupuncture adalah salah satu Teknik Akupuntur dengan tujuan utama adalah untuk mengurangi nyeri dan mengurai sumbatan. Teknik ini diperkenalkan oleh Agus Listriyanto Abdulloh atau yang dikenal dengan Mister Agus Acheng, seorang terapis pengobatan tradisional berbasis TCM (Traditional Chinese Medicine).

Teknik akupuntur Acheng ini sangat simple dan tidak membutuhkan hapalan titik meridian tetapi hasilnya signifikan. Bagi pemula sekalipun, teknik ini DIJAMIN dapat langsung dikuasai dengan baik karena Mirter Agus telah membuat konsep teori yang sangat mudah dipahami. Teknik ini berfokus pada melatih kepekaan ujung jari tangan dalam mencari jalur nyeri tubuh. Teknik ini terus dikembangkan dan perkenalkan kepada khalayak umum terutama Nakes Akupuntur supaya lebih bermanfaat bagi banyak orang.
CIRI-CIRI SUMBATAN MENURUT ACHENG STYLE
Ciri-ciri sumbatan saat dilakukan palpasi:
1.Sumbatan pada umumnya teraba cekung dibandingkan jaringan sekitarnya.
2.Pada kondisi yang berat, sumbatan dapat memanjang menyerupai sungai atau garis.
3. Pada kondisi yang lebih berat, sumbatan dapat memanjang menyerupai danau atau garis yang melebar.
4. Pada kondisi yang sangat berat, sumbatan dapat memanjang menyerupai jurang atau garis yang melebar dan dalam.
Dengan mengetahui ciri sumbatan, terapis dapat menentukan titik terapi secara lebih akurat dan spesifik sesuai kondisi pasien. Setelah titik sumbatan ditemukan, stimulasi akupuntur diarahkan langsung pada area tersebut untuk membantu mengurai stagnasi, melancarkan kembali aliran qi dan darah, serta meredakan nyeri. Pendekatan berbasis palpasi / rabaan ini membuat terapi menjadi lebih presisi, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan setiap pasien. Semakin jelas, luas, dan panjang area cekungan yang teraba, semakin menunjukkan bahwa sumbatan telah berlangsung lama atau cukup parah, sehingga memerlukan penanganan yang lebih fokus.
LETAK SUMBATAN
Dalam praktik Acheng Style Acupuncture, letak sumbatan energi dan gangguan jaringan dapat dikenali melalui perabaan yang sistematis. Sumbatan dapat ditemukan pada beberapa titik, seperti:
1.Jalur Meridian
Sumbatan ditandai dengan nyeri, rasa penuh, atau aliran Qi yang tidak lancar sepanjang lintasan meridian tertentu. Kondisi ini biasanya berkaitan langsung dengan keluhan organ terkait dan menunjukkan gangguan keseimbangan Qi dan darah pada sistem meridian tersebut.
2. Diluar Jalur Meridian
Sumbatan juga sering ditemukan di luar jalur meridian secara acak, terutama pada jaringan otot, fasia, atau titik-titik lokal akibat trauma, postur yang salah, atau penggunaan otot berlebihan. Area ini sering terasa keras, lentur, atau sangat nyeri saat dipalpasi, meskipun tidak berada tepat di lintasan meridian klasik. Pendekatan ini menegaskan bahwa gangguan struktural lokal juga dapat memengaruhi aliran Qi dan menimbulkan keluhan sistemik.
3. Spasma Otot
Yaitu kondisi otot yang berkontraksi berlebihan dan sulit relaks. Pada perabaan, spasma terasa tegang, kaku, dan nyeri tekan, serta sering membatasi pergerakan. Spasma ini menghambat sirkulasi Qi dan darah, sehingga bila tidak dilepaskan dapat menimbulkan nyeri menetap atau menjalar. Pada kasus berat, di tengah spasma terdapat cekungan atau sungai.
4. Suhu Yang Berbeda
Palpasi membantu mengenali perbedaan suhu, baik panas maupun dingin. Area yang terasa panas umumnya menunjukkan kondisi berlebih (excess), peradangan, atau stagnasi panas. Sedangkan area yang terasa dingin sering berkaitan dengan kekurangan (deficiency), aliran Qi yang lemah, atau dominasi dingin dalam tubuh. Perbedaan suhu ini menjadi petunjuk penting dalam menentukan teknik dan strategi terapi.
5. Kaku atau Kendor
Sumbatan juga terlihat dari kondisi kekakuan atau kekendoran jaringan. Jaringan yang kaku biasanya menandakan stagnasi Qi dan darah, sedangkan jaringan yang terlalu kendor dapat menunjukkan kelemahan energi dan kurangnya tonus. Keduanya sama-sama mengganggu fungsi normal tubuh dan memerlukan pendekatan terapi yang baik dan tepat.
Tonus adalah tingkat ketegangan dasar atau kekencangan alami otot dan jaringan tubuh saat dalam keadaan istirahat. Tonus membuat otot tetap siap bergerak, menjaga postur tubuh, dan menopang fungsi organ secara normal.dalam konteks akupuntur dan palpasi.
• tonus baik → otot terasa elastis, kenyal, responsif saat diraba
• tonus meningkat → otot terasa kaku/tegang (sering terkait stagnasi atau spasme)
• tonus menurun → otot terasa lembek/kendor (sering terkait kelemahan Qi dan darah).
6. Kebas atau Kesemutan
Gejala sensori seperti kebas dan kesemutan juga menjadi indikator penting. Kebas sering berkaitan dengan aliran Qi dan darah yang tidak sampai ke jaringan perifer, sementara kesemutan menunjukkan adanya gangguan sementara atau parsial pada jalur energi dan saraf. Dengan memahami variasi letak dan karakter sumbatan ini, praktisi dapat melakukan terapi yang lebih tepat sasaran, individual, dan efektif.
7. Warna Kulit Yang Menghitam
Warna kulit yang menghitam pada suatu bagian tubuh menandakan aliran darah dan oksigen ke area tersebut tidak lancar, sehingga jaringan kekurangan nutrisi dan pembuangan sisa metabolisme terhambat. Akibatnya terjadi penumpukan darah kotor dan pigmen yang membuat kulit tampak lebih gelap, kusam, atau bahkan keunguan. Kondisi ini sering muncul pada sumbatan peredaran darah yang berlangsung lama dan menjadi tanda bahwa jaringan setempat tidak mendapatkan suplai energi dan darah yang optimal.
TEKNIK AKUPUNTUR ACHENG
Dalam Teknik Akupuntur Acheng, mengurai sumbatan dilakukan dengan beberapa metode penusukan jarum yang dipilih sesuai kondisi dan tingkat keparahan sumbatan. Setiap teknik memiliki karakter dan tujuan yang berbeda, namun semuanya diarahkan untuk memecah stagnasi qi dan darah serta mengaktifkan kembali respons saraf di area yang bermasalah.
1. TEKNIK URAI
Yaitu penusukan jarum yang dilakukan singkat lalu segera dicabut atau tusuk cabut. Metode ini bertujuan memberikan rangsangan awal untuk “membangunkan” area yang mengalami sumbatan ringan, memperbaiki respons jaringan, dan membuka aliran energi yang terhambat. Teknik URAI atau tusuk cabut biasanya digunakan pada cekungan yang masih berupa titik kecil atau pada tahap awal keluhan.
2. TEKNIK ANAK PANAH
Yaitu penusukan jarum yang dilakukan beberapa kali membentuk garis menyerupai mata panah mengikuti arah sumbatan tanpa jarum keluar dari kulit. Teknik ini biasanya diterapkan pada sumbatan berat atau sungai yang saat palpasi teraba memanjang seperti garis. Teknik ini membantu “memecah” sumbatan di sepanjang jalurnya, sehingga aliran qi dan darah dapat kembali mengalir lebih merata dan efektif.
3. TEKNIK URAI TANAM
Yaitu jarum ditusukkan dan dibiarkan beberapa waktu untuk memberikan stimulasi yang lebih dalam dan berkelanjutan. Metode ini digunakan pada cekungan yang terasa lebih jelas atau alektrikal, dengan tujuan melunakkan jaringan yang stagnan, memperlancar sirkulasi, serta membantu meredakan nyeri berlebih.
4. TEKNIK PANAH TANAM
Yaitu jarum ditusuk-tusakkan atau dipanahkan dan dibiarkan beberapa waktu untuk memberikan stimulasi yang lebih dalam dan berkelanjutan. Metode ini digunakan pada sungai yang terasa lebih jelas atau alektrikal, dengan tujuan melunakkan jaringan yang stagnan, memperlancar sirkulasi, serta membantu meredakan nyeri berlebih.
5. TEKNIK BLOKADE
Yaitu penusukan disepanjang tepian jurang. Teknik ini sangat efektif dalam memaksa tubuh untuk meregenerasi lebih cepat sel-sel yang rusak akibat luka yang ekstrim, seperti luka akibat kecelakaan, luka bekas operasi, dan lain-lain.
TITIK PENGUASA
Dalam praktik akupuntur klinis, titik penguasa sering dipahami sebagai titik wajib / titik penguat utama yang berfungsi membuka jalur energi, melancarkan qi–darah, dan mengendalikan area tubuh tertentu. Titik ini tidak selalu satu titik tunggal, tetapi bisa berupa kelompok meridian dominan yang paling berpengaruh pada wilayah tersebut.
1. Penguasa Kepala – GB20 (Fengchi)
GB20 adalah titik kunci kepala karena berada di pertemuan jalur GB, BL, dan yang wei mai. Titik ini mengatur sirkulasi qi dan darah ke otak, mata, dan saraf kepala. Secara klinis GB20 hampir selalu dipakai pada pusing, nyeri kepala, gangguan penglihatan, vertigo, hipertensi, serta keluhan saraf pusat. Karena efeknya yang cepat dan luas, GB20 disebut sebagai titik wajib untuk kasus kepala.
2. Penguasa Leher – Cervical (CV) 1–7
Segmen CV1–CV7 merupakan pusat saraf leher yang mengendalikan hubungan antara kepala, bahu, lengan, dan organ vital. Sumbatan di area ini sering memicu nyeri leher, baal tangan, pusing, hingga gangguan fungsi organ. Stimulasi CV1–CV7 membantu membuka jalur saraf dan pembuluh, sehingga menjadi penguat utama pada kasus leher dan ekstremitas atas.
3. Penguasa Tangan – Meridian SI (Usus Kecil)
Meridian SI berjalan dari jari kelingking, lengan, bahu, hingga leher dan kepala. Jalur ini sangat erat dengan fungsi motorik dan sensorik tangan. Gangguan pada tangan seperti nyeri, kesemutan, kaku, hingga pasca stroke sering menunjukkan sumbatan pada jalur SI. Karena itu, titik-titik SI berperan sebagai penguasa tangan, terutama dalam pemulihan gerak dan kekuatan.
4. Penguasa Badan – Meridian BL (Kandung Kemih)
Meridian BL adalah jalur terpanjang di tubuh yang membentang di kedua sisi tulang belakang dan berhubungan langsung dengan organ dalam melalui titik shu. Hampir semua masalah badan—nyeri punggung, organ lemah, sirkulasi buruk, hingga kelelahan kronis—melibatkan jalur BL. Inilah sebabnya BL disebut penguasa badan dan menjadi jalur wajib dalam banyak terapi.
5. Penguasa Kaki – BL, GB, dan ST
Kaki dikendalikan oleh kombinasi tiga meridian utama:
• BL → jalur belakang kaki, kekuatan, dan saraf
• GB → sisi luar kaki, keseimbangan, dan koordinasi
• ST → bagian depan kaki, otot, dan staminakombinasi ketiganya memastikan gerak kaki stabil, kuat, dan terkoordinasi. Pada kasus lemah kaki, nyeri lutut, atau pasca stroke, ketiga jalur ini hampir selalu menjadi fokus terapi.
BELAJAR BARENG AKUPUNTUR ACHENG STYLE
Teknik Acheng dirancang dengan sistem yang sederhana, terstruktur, dan mudah dipahami sehingga para praktisi dapat menguasainya dalam waktu relatif singkat. Dengan pendekatan yang aplikatif dan langsung pada titik permasalahan, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan teknik ini secara tepat dan efektif. Banyak yang merasakan hasil signifikan setelah menerapkannya, baik dalam peningkatan ketepatan diagnosis maupun percepatan respon terapi pada pasien. Hal inilah yang membuat Teknik Acheng menjadi salah satu metode yang layak dipelajari dan dikembangkan lebih luas.
Melihat antusiasme serta manfaat yang dirasakan, belajar bareng Teknik Akupuntur Acheng akan diadakan di berbagai kota di Indonesia. Program ini secara khusus ditujukan bagi tenaga kesehatan akupuntur (mempunyai STR) serta mahasiswa akupuntur (mempunyai KTM Akupuntur) yang ingin meningkatkan kompetensi dan keterampilan klinisnya. Dengan pembelajaran yang sistematis, praktik langsung, dan pendampingan intensif, diharapkan peserta mampu menguasai teknik ini secara profesional dan bertanggung jawab sesuai standar praktik kesehatan.
Informasi lebih lanjut tentang Belajar Bareng Acheng Style Acupuncture silahkan menghubungi:
